JakOnline Supporting PERSIJA Through Cyber World

Si Keras Kepala

JakOnline – Jakarta, kota yang penuh dengan alur cerita yang sering keluar dari temanya. Ada banyak tokoh dan latar yang membuat kota Jakarta selalu diperhatikan segala tindak tanduknya, sebuah resiko menjadi ibukota sebuah negara yang begitu besar memang bukanhal yang mudah. Tak jarang, setiap detik hanya keluh kesah yang keluar bagai desing peluru di medan perang menghujani kota yang penuh dengan kaum urbannya ini.

Kaum urban yang terus berdatangan dan dikelilingi kota satelit seperti Depok, Bekasi, Tangerang, dan juga Bogor. Ibukota Jakarta layaknya orang tua asuh yang mengemban tugas teramat besar. Jakarta keras? Iya, hanya untuk kita yang tak mau bekerja keras. Jakarta arogan? Iya, hanya untuk kita yang selalu berpangku tangan.

Yang berbau Jakarta memang selalu dihina, hanya untuk kita yang memang belum terlalu bangga dengan sejarah negara dan kota yang menopangnya ini. Jika dulu kaum “urbannya” adalah para penjajah asing, sekarang kebanyakan urbannya adalah pribumi yang punya cita-cita namun tak punya rasa cinta di dalamnya untuk sebuah kota yang bernama Jakarta.

Kita tak akan gampang menghina jika kita tahu ada kisah pahit manis yang ada di dalam setiap momennya, pun begitu dengan kota Jakarta ini. Dikenal dengan nama Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia/Batauia, atau Jaccatra, dan Djakarta, tentu ada setiap kisah klasik di dalam setiap alur ceritanya. Di era yang modern , Jakarta melalui Monasnya dengan gagah mengaku dirinya adalah sebuah Ibukota negara dengan populasi penduduk kurang lebih 260 juta jiwa yang bernama Republik Indonesia. Tugu Monas yang dimahkotai lidah api dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Monas memang bukan hanya milik orang Jakarta tetapi juga milik orang Indonesia sesuai dengan ide pembangunan dan filosofi dibuatnya pada tanggal 17 agustus 1961 di bawah Presiden Sukarno.

Semangat perjuangan yang menyala-nyala itu kini ada di dada Persija Jakarta, klub yang berdiri pada tahun 1928, Representasi perjuangan melawan kolonialisme lewat genre olahraga. Salah satu “pilar” kota Jakarta yang sedari dulu memang Jaya Raya, tak pernah terpinggirkan karena penuhsejarah di dalamnya.

Pemain dan supporter Persija Jakarta pun kini tak jarang juga termasuk kaum-kaum urban, kaum urban yang selalu menghormati para penghuni tua, tidak hanya belajar sejarah tetapi juga belajar dari sejarah dari sebuah klub sepakbola bernama Persija Jakarta. Sesuai dengan lambang monas yang ada di dada yaitu semangat perjuangan yang menyala-nyala, menjaga kota ini dengan penuh cita-cita dan cinta untuk Jakarta, juga untuk Persija. Jadilah kaum urban yang “keraskepala”, kritik selalu ada tapi tak ada keluh kesah didalamnya. (@mas23dimas/JO)

Terimakasih Jakarta, Terimakasih Persija, Terimakasih Sejarahnya.

Note : Tulisan ini terinspirasi dari sebuah lagu dari Merseyside yang berjudul “Urban”.



You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Log In

Top Skor PERSIJA Di Liga 1 2019

1. Marko Simic (1 Gol)

2.

3.

4.

5.

Instagram @JakOnline01

Facebook

Terbaru