JakOnline Supporting PERSIJA Through Cyber World

“Kerja Sosial dan Independen” #13thJakOnline

JakOnline – Berawal dari kecintaan atas Persija, sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan salah satu syarat kelulusan, gue jatuhkan pilihan untuk menyusun skripsi tentang Persija dan The Jak Mania.

Awalnya gue bingung siapa objek penelitian. Sampai pada akhirnya dosen pembimbing memberikan sebuah titik terang sebuah objek penelitian tentang komunitas, dan pilihan itu jatuh ke Jak Online. “Peran Media Komunitas Suporter Sepakbola (Studi Kasus pada Jak Online sebagai media komunitas pengedukasian suporter The Jak Mania) “menjadi judul skripsi gue.

Gue buta tentang sejarah Jak Online, karena awalnya yang gue tahu Jak Online (JO) hanya memberikan informasi tentang Persija dan The Jak Mania. Semua berawal ketika gue ketemu pengurus JakOnline saat ini Adzani Alwianto bisa dijumpai di akun twitter (@zaniorens) dan Fahmi Kebot (@bang_kebot). Sekedar ngobrol-ngobrol santai buat mendapatkan data awal penelitian gue.

Hal yang buat gue kaget sekaligus kagum adalah ketika Bang Zani dan Bang Kebot meyebut diri mereka sebagai kerja sosial di Jak Online. “Kita kerja di JakOnline tidak dibayar, kita menyebutnya sebagai kerja sosial,” ujar Bang Kebot.

Senada dengan gue, kekaguman juga muncul dari Larico Ranggamone Ketua Umum The Jakmania, menurutnya walaupun tanpa digaji mereka mampu memberikan pemberitaan yang positif.  “Mereka memiliki Crew yang rela tanpa digaji tapi mampu memberikan informasi tentang Persija dan Jakmania ”kata Ayah Riko begitu biasa disapa.

Hebatnya lagi, dari awal terbentuknya Jak Online memilih untuk independen dan diluar kepengurusan The Jakmania. Hal ini dimaksudkan agar informasi yang mereka sampaikan nantinya dapat berimbang dan tidak memihak.

“JakOnline berdiri secara independent, maka dari itu JO ada di luar struktur pengurus pusat The Jakmania, sampai saat ini kami masih mempertahankan hal tersebut,”ujar Bang Kebot.

“Sebagai media, JakOnline memiliki pernyataan sendiri yang berimbang dan tidak memihak,” sambung Bang Zani.

Di lain kesempatan gue sempat berbincang dengan Bung Ferry untuk mengumpulkan data. Bung Ferry mengisahkan awal berdirinya Jak Online ketika dirinya masih menjabat ketua umum The Jakmania.

“Waktu pertama kali Rinaldi (salah seorang pendiri Jak Online) datang ke rumah gue untuk nonton Persija. Dia bilang mau membentuk media komunitas Jak Online, tapi dia tidak mau ada di dalam struktur The Jakmania,” kisah Bung Ferry.

“Gue lebih suka mereka independen karena mereka media. Jangan sampai mereka di setir oleh gue, pengurus The Jakmania, ataupun manajemen Persija,” tambah Bung Ferry.

Semakin menambah kekaguman gue, ketika sebuah media komunitas memilih jalan independen agar mampu memberikan pemberitaan yang berimbang. Setidaknya sejak awal berdiri Jak Online sudah memiliki jati dirinya sendiri yang tidak akan mudah untuk dipengaruhi oleh pernyataan apa pun dan oleh siapa pun.

Selamat ulang tahun Jak Online yang ke-13. Jadikan “kerja sosial” ini bermanfaat buat kami dan semua pecinta sepakbola di tanah air. Jadilah pelopor media komunitas suporter yang independen dan berimbang agar kedepannya dapat memajukan sepakbola negeri ini terutama Persija.

Tulisan ini berdasarkan sebuah hasil penelitian skripsi dari Gilang Permana Putra, Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara Jurusan Jurnalistik 2010.



You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Log In

Top Skor PERSIJA Di Liga 1 2019

1. Marko Simic (1 Gol)

2.

3.

4.

5.

Instagram @JakOnline01

Facebook

Terbaru