JakOnline Supporting PERSIJA Through Cyber World

Orange Moon Rising: Arema 4 – 4 Persija, Buah Kecemerlangan RD Atau Faktor Hancurnya Mental Arema?

JakOnline – Tidak salah memang menampilkan laga Arema melawan Persija sebagai salah satu pertandingan pembuka QNB League musim ini. Terlepas dari peliknya masalah persepakbolaan Indonesia saat ini, Arema dan Persija memutuskan untuk melangsungkan laga bergengsi ini. Tidak sia-sia, kedua tim menyajikan duel menarik yang berkesudahan dengan skor 4 – 4.

Baik Arema maupun Persija sama-sama tidak dapat menurunkan skuat terbaiknya. Dari kubu Arema, duo Liberia Sengbah Kennedy dan Yao Ruddy belum dapat diturunkan karena masalah cedera. Sementara Persija sendiri belum dapat diperkuat Martin Vunk, Yevgeni Kabayev, Stefano Lilipaly, dan Andritany Ardhiyasa karena masalah yang sama.

Hasilnya, kedua pelatih dipaksa untuk menurunkan line-up kreatif untuk mengakomodasi kekurangan yang mereka miliki. Untuk Arema, saya rasa mereka tidak memiliki kesulitan berarti karena memiliki tim dengan komposisi yang tidak jauh berbeda antara pemain inti maupun cadangan. Syamsul Arif ditandemkan dengan Christian Gonzales, sementara Arif Suyono didorong memainkan peran Sengbah. Yang memiliki tantangan pada laga ini adalah Rahmad Darmawan, dimana Persija tidak memiliki kedalaman skuad laiknya Arema. Akhirnya RD pun memainkan Adixi Lenzivio dan “memaksa” Alfin Tuasalamony melakoni peran gelandang box-to-box.

Hasilnya adu serang yang sangat seru terjadi di babak pertama. Pertandingan baru berjalan 10 menit saat Christian Gonzales memanfaatkan umpan silang dari sisi kiri pertahanan Persija untuk menggetarkan gawang yang dijaga Adixi tersebut. Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan lama, karena 8 menit kemudian Bambang Pamungkas menceploskan bola melalui titik putih setelah sebelumnya ia dilanggar di kotak penalti. Persija kemudian berbalik unggul setelah (lagi-lagi) Bepe mencetak gol melalui tendangan bebas cantik dari luar kotak penalti.

Belum selesai euforia Jakmania, Syamsul Arif mencetak gol cepat yang juga cantik semenit kemudian. 7 menit kemudian mantan kapten Persija, Fabiano Beltrame mencetak gol dari situasi yang cukup kontroversial. Gol tersebut cukup untuk menyegel hasil 3-2 untuk keunggulan Arema pada babak pertama.

Pada babak kedua, Arema coba mempertahankan keunggulan dengan memasukkan bek Purwaka Yudi untuk menggantikan playmaker Arif Suyono. Sadar membutuhkan gol, tidak lama kemudian Persija merespon dengan 2 pergantian: Ramdani Lestaluhu untuk menggantikan M. Ilham dan Vava Mario Zagallo untuk Syaiful Indra Cahya. Tidak butuh waktu lama untuk akhirnya Persija menyamakan kedudukan melalui hattrick dari sang legenda hidup, Bepe melalui tendangan bebasnya.

Arema terlihat sedikit kedodoran pada babak kedua ini, sementara anak-anak asuh RD mengambil alih kendali permainan. Ball possesion perlahan dikuasai oleh Persija. Pada saat itu, tim tamu tampak “mendikte” Arema yang di asuh oleh Suharno. Puncaknya, sebuah serangan balik cepat dari Persija berhasil membuahkan gol Greg Nwokolo saat pertandingan menyisakan 7 menit.

Sayangnya, sepakbola itu kejam. Saat pertandingan memasuki masa injury time, Alan Acier yang berusaha menghalau bola malah melakukan handsball! Wasitpun menunjuk titik putih. Tidak mau menyia-nyiakan peluang, Fabiano dengan dingin mengecoh Adixi. Pertandingan berakhir dengan skor 4-4.

Melihat cara bermain Persija pada pertandingan kali ini sungguh mengejutkan. Tidak seperti musim lalu yang sangat mengandalkan serangan balik, musim ini Rahmad Darmawan berhasil membuat Persija bermain lebih efektif dengan tetap mengandalkan kecepatan. Didukung dengan pemain-pemain cepat seperti Greg Nwokolo, M. Ilham, Alfin Tuasalamony, Ismed Sofyan, Syaiful Indra Cahya, dan Vava Mario Zagallo, RD memiliki komposisi yang pas untuk skema-nya tersebut. Beberapa musim terakhir Persija seperti masih belum menemukan sosok bek kiri yang tepat. Mulai dari era Leo Saputra, kemudian berganti Dani Saputra dan sempat menjadi milik Alfarizi. Baik Syaiful maupun Vava yang didapuk untuk mengisi pos ini masih kurang cakap apabila dibandingkan dengan performa Ismed di sisi sebaliknya.

Sementara Arema sendiri tidak terlihat seperti Arema yang sebenarnya. Tim yang musim lalu sukses menembus semifinal ISL dan “menggila” pada ajang pramusim. Entah karena faktor fisik yang kelelahan karena banyaknya turnamen pramusim atau faktor mental yang jatuh karena sempat tidak diizinkannya laga ini untuk berlangsung oleh BOPI. Yang jelas Arema bermain tidak seperti biasanya.

Dari pertandingan yang sangat seru ini, terdapat catatan bagi kedua pelatih. Untuk RD: apabila ingin membawa Persija mengakhiri puasa gelar pada kesempatan ketiganya ini, jelas ia harus memperbaiki kinerja lini belakang terutama pos bek sayap kiri. Baik Syaiful maupun Vava harus meningkatkan kemampuan untuk menunjukan diri bahwa mereka siap saat di plot menjadi andalan RD di posisi ini. Selain itu, lini depan yang terlalu bergantung kepada Bepe juga harus dibenahi.

Untuk Suharno sendiri, dengan materi yang dimilikinya saat ini saya rasa tidak memiliki kekurangan berarti. Soal penampilan mereka yang out-of-perform pada pertandingan kali ini, perlu dicari penyebabnya agar tidak terulang dipertandingan selanjutnya. Tentu manajemen Arema ingin melihat performa Arema musim lalu dan pramusim, bukan performa seperti pada pertandingan ini.

Musim masih panjang, sehingga masih ada waktu bagi kedua pelatih untuk memperbaiki performa anak-anak asuhnya. Dengan materi pemain yang dimiliki Arema, Suharno tentu dituntut untuk membawa anak-anak asuhnya merebut kembali mahkota QNB League musim ini. Sedangkan bagi RD, materi yang dimilikinya mungkin tidak sebaik tim-tim seperti Persipura, Persib, Arema, bahkan Sriwijaya. Akan tetapi materi tersebut cukup untuk menjadikan Persija sebagai kuda hitam untuk kompetisi kali ini.

Sebagai seorang pendukung Persija, tentu saya berharap coach RD mampu menghadirkan magisnya pada kesempatan ketiganya melatih tim ibukota ini. Sudah terlalu lama Persija yang memegang rekor sebagai pemilik gelar terbanyak kompetisi sepakbola tertinggi di Indonesia ini tidak merasakan manisnya mencium piala. Let the Orange Moon rise again, Forza Persija!

Penulis : Budi Prasetyo
Foto : persija.co.id



One Comment

  1. Pingback: Orange Moon Rising: Arema 4 – 4 Persija, Buah Kecemerlangan RD Atau Faktor Hancurnya Mental Arema? | FAMILIA PELANGI 86

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Log In

Top Skor PERSIJA Di Liga 1 2019

1. Marko Simic (1 Gol)

2.

3.

4.

5.

Instagram @JakOnline01

Facebook

Terbaru