JakOnline Supporting PERSIJA Through Cyber World

Artikel Untuk Beberapa Bulan Lalu

JakOnline – Sepakbola, terlintas hanyalah sebuah permainan yang dimainkan oleh dua tim yang memerebutkan sebuah bola untuk mencetak gol. Akan tetapi, bila kita telah merelakan diri masuk kedalam banyak hal yang kita temui didalamnya. Aspek – aspek penunjangnyapun makin hari makin pesat berkembang.

Begitupula dengan tren fashion pada sepakbola. Beberapa produsen ternama dunia berlomba menciptakan penemuan – penemuan terbarunya demi menciptakan produk penunjang untuk para pelaku dalam industri olahraga ini. Dari riset serta uji kelayakan yang mereka lakukan, makin hari makin membuat olahraga ini “naik kelas” dari yang hanya olahraga rakyat, hingga olahraga yang paling digemari di dunia ini.

Untuk para pendukungnyapun, pengaruh fashion tidak bisa dianggap enteng. Bukan hanya untuk menunjukkan strata sosial ataupun gengsi. Fashion pada sepakbola lebih kepada sejauh mana kita menghargai kegemaran yang banggakan. Dan jika sebagian orang mengganggap sepakbola ada agama, maka stadion adalah kuilnya. Dan cara yang baik memasuki kuil adalah dengan berpakaian yang baik pula.

Pada akhir tahun 1970an, bermula di Inggris Raya para pendukung kesebelasan sepakbola mulai menganggap “cara berpakaian mereka” amatlah mempengaruhi gengsi sebuah tim. Merk – merk kenamaan mulai menghiasi jalan – jalan utama hingga teras stadion tempat pertandingan akan digelar. Pakaian – pakaian yang sebelumnya hanya dikonsumsi oleh para priayi bangsawan. Sejak saat itu mulai digunakan oleh para kelas pekerja. Alasan para suporter menggunakan merk kenamaan tersebut agar mereka mudah mengakses jalur batas pada tim lawan, juga dapat mengecoh para pihak keamanan yang berjaga.

Begitu pula di Indonesia. Jika pada dokumentasi pertandingan sepakbola sebelum era millennium, kita banyak menemukan para penonton hanya menggunakan “pakaian seadanya”. Pakaian yang biasa digunakan untuk aktifitas sehari – hari. Berbeda pada saat ini, selain atribut dengan warna – warna kebanggaan, Para suporter juga menghiasi diri dengan pakaian – pakaian bermerk. Mulai dari logo contreng, 3 garis, buaya noleh, elang emas, hingga logo jarum kompas dan masih banyak lagi.

Offhool atau Official Hooligan adalah merk yang berdiri sejak 2003. Adalah Thug, sang penggagas serta empunya brand tersebut mengakui, bahwa apa yang dibangunnya bukan hanya soal keuntungan finansial, melainkan lebih kepada pola pikir suporter lokal akan pentingnya berpakaian rapih sebelum menyaksikan pertandingan. Kami sempat berdiskusi ringan dengan pria bersenyum manis tersebut pada saat awal pembukaan toko ketiganya. Dalam diskusi ringan tersebut, beliau bercerita tentang pahit getir serta keluh kesah dalam menancapkan merk dagangnya sebelum menjadi merk yang sangat berpengaruh dalam belantika suporter tanah air.

Peluit dalam lingkaran yang menjadi ciri khas, tak dapat dipungkiri menjadi koleksi wajib para penghamba kemenangan. Thug juga menceritakan cikal bakal terpilihnya nama Official Hoolligan adalah saat dia meminta pendapat dari rekan – rekan satu bandnya. Official Hoolligan diambil dari salah satu judul lagu dari legenda Oi! Music di Benua Biru. Oleh karenanya, Offhool tidak hanya menelurkan karya dalam bahasa sepakbola saja, ada beberapa diantaranya karya – karya yang kental dengan nuansa subkultur, mulai dari skuter hingga karya bertemakan cutting edge khas musik – musik berisik.

Pada toko ketiganya ini, Offhool mengambil tema “Jakarta Under Construction”. Makna yang diangkat dari tema tersebut adalah untuk para kelas pekerja di Ibukota yang telah muak dengan hingar bingar pembangunan yang tak kunjung rampung serta menghasilkan kemacetan akut. Tak pelak lagi, ornamen yang digunakan menghanyutkan kita pada rona merah pembangunan negeri ini. Dari seng pembatas hingga dinding yang sekan belum selesai digarap dan pencahayaan yang menjadi miniatur lampu jalan.

Sebagai pelopor trend fashion suporter lokal, Thug juga bangga dengan makin maraknya merk – merk serupa yang terus saja bermunculan dalam meramaikan hiruk pikuk rivalitas sepakbola negeri ini. Tentunya, dia berpesan kepada kawan – kawan untuk terus menjaga orginalitas dalam membuat konsep produknya. “Yaudah, kalo ada waktu mari kesini kita belajar bareng – bareng”, begitu ujarnya.

Dari lapak kecil sebelum pertandingan di Lebak Bulus, toko yang tak lebih dari 3 x 1 m dibilangan Taman Puring, Visitors End disebelah mall premium, hingga Offhool Lads Club di samping SD Meksiko Senayan. Adalah bentuk pegabdian akan kesetiaan brand ini terhadap apa yang telah mereka suarakan hingga saat ini. Akses menuju toko tersebut juga dimudahkan dengan adanya aplikasi google maps. Kita tinggal mengetik Offhool Lads Club, maka piranti tersebut menampilkan jarak serta arah yang benar menuju kesana. Kearah Jl. Hanglekir 6. Kebayoran Baru.

Pemilihan material yang baik, desain yang “keluar jalur pasar”, dan sedikit ramuan distorsi khas subkultur suporter adalah alasan paling mendasar para penikmat Offhool untuk terus menunggu rilisan demi rilisan berikutnya.

Akhir kata, dengan tidak mengesampingkan merk – merk yang ada di kota ini saya rasa tidak terlalu berlebihan jika saya berkata “Offhool adalah adiktif untuk para pecandunya”. Ada kalimat yang terus terngiang saat saya membaca tag pada salah satu produknya : “Wear it With Pride”, dan hingga saat ini saya terus menjawab dengan “Absolutely, Sir” saat saya mengenakan di depan cermin rilisan terbaru dari Offhool. Salam… Atsalist #PrideIsTimeless

Penulis : Saif Atsalist
Foto : JakOnline



You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Log In

Top Skor PERSIJA Di Liga 1 2019

1. Marko Simic (1 Gol)

2.

3.

4.

5.

Instagram @JakOnline01

Facebook

Terbaru