JakOnline Supporting PERSIJA Through Cyber World

Saatnya Kembalikan Kejayaan (!/?)

JakOnline – Sang Macan Kemayoran yang dikenal dan ditakuti seantero Negri kini sudah mulai hanya di banggakan akan kejayaannya di masa lampau. Sang Macan Kemayoran yang dulu memiliki lari yang cepat, taring yang tajam cakar yang kuat serta terkaman yang ganas kini sudah mulai tak terlihat lagi.Entah apa yang salah dengan si Macan.

Tapi patut disorot bagaimana kinerja manajemen dalam mengurus serta menjaga performa sang macan. Bukan bermaksud mengkambing-hitamkan salah satu pihak atas kemunduran yang terjadi, namun hanya sekedar mengkritisi dan mencoba mencari solusi terbaik karena kita sama-sama cinta sang macan. Semenjak tidak diperbolehkannya APBD untuk menghidupi klub Profesional di Indonesia, performa sang macan dibawah manajemen PT Persija Jaya Jakarta (PT.PJJ) sangat tidak memuaskan.

Terbaru, sang macan seakan tak berdaya dalam pagelaran Bhayangkara Cup 2016. Dipermalukan tim amatir yang dihuni segerombolan pemain bintang, menang beruntung atas tuan rumah, sempat menahan tim kuat yang ditinggal pemain bintangnya, dan terakhir kalah tipis dari tim kuat calon juara. Seakan melengkapi catatan beberapa tahun terakhir dimana seolah-olah sang macan hanya menjadi bintang tambahan dalam pagelaran turnamen sepakbola nasional.

Setelah lepas dari APBD, sang macan seakan kehilangan induknya yang selalu menyusui setiap saat. Kini sang macan perlu pemimpin yang mampu membawa kembali seperti sedia kala. Kinerja pimpinan manajemen inilah yang menjadi orang pertama harus bertanggung jawab atas merosotnya performa sang macan.

Tahun-tahun awal banyak kerikil tajam yang sudah berhasil dilewati.Tapi kini manajemen tak punya lagi alasan adanya dualism dan transisi dari menggunakan APBD menjadi klub Profesional yang menjadi penyebab utama. Sang pemimpin pada periode awal pun kini kembali memimpin untuk periode berikutnya. Padahal kegagalan mereka mengurus sang macan.

Di periode pertamanya memimpin, ia tak mampu menghadirkan prestasi yang mengembirakan seluruh supporter Persija. Hanya raihan Trofeo Persija yang mampu menambah koleksi trophy di kantor Klub. Lalu, sudah puaskah sang pemilik atas kinerja nakhoda kita ini? 30 klub internal sebagai pemilik sah sang macan pun masih mempercayai orang yang sama sebagai Nakhoda dengan pertimbangan kedekatan serta perjuangan serta pengorbanan sang nakhoda di pelayaran periode pertamanya walaupun kami kira ia telah gagal.

Karena sejujurnya sebagai supporter,kita tidak bisa melihat pengorbanan sang Nakhoda untuk tetap survive dalam beberapa tahun terakhir pelayarannya. Karena itu semua tentu tak cukup membuat kita puas. Sebagai tim yang memiliki nama besar serta sejarah yang panjang, Persija tak semestinya hanya sekedar survive saja dalam mengarungi kompetisi nasional. Namun dituntut hasil memuaskan yang disebut prestasi. Lalu, sudah puaskah sang pemilik macan dengan kinerja sang nakhoda?

Sesungguhnya, kami tak menuntut memiliki nakhoda kaya raya yang mampu membiayai perjalanan mengarungi kompetisi. Bukan pula nakhoda yang membiayai dan menambal lubang-lubang pada kapalnya seorang diri. Juga bukan nakhoda yang tidak becus merekrut awak kapal yang berkualitas. Nakhoda yang lebih dibutuhkan kita ialah orang yang mampu secara professional, berkemauan keras, serta kreatif untuk membawa para orang-orang kaya untuk ikut serta dalam pelayarannya. Orang-orang kaya inilah yang akan membiayai pelayaran kita bahkan sang nakhoda pun bisa dapat keuntungan dari mereka. Nakhoda ini pun harus yang mampu membentuk manajemen dan merekrut armada yang cakap guna mengisi tim untuk mendongkrak performa sang macan.Tak ketinggalan pula haruslah ia seorang nakhoda yang memiliki kecintaan pada sang macan.

Ketidakpuasan akan kinerja sang nakhoda sudah tak lagi terdengar sayup-sayup. Kami menuntut adanya reformasi dalam tubuh manajemen, namun tiada guna jika sang pemilik masih mempercayai sang nakhoda. Kembali kepertanyaan sebelumnya, sudah puaskah para pemilikdengan kinerja sang nakhoda? Kalaupun kita mengajak seorang saudagar kaya raya untuk mengambil alih pelayaran sang nakhoda bersama kita, tentunya sang saudagar tidak hanya harus mengakuisisi kepemilikan kapal, namun juga harus membayar jasa sang nakhoda yang telah membiayai perjalanan selama ini. Begitu pulalah mengapa para pemilik terlihat begitu sulit untuk menggantikan sang nakhoda. Karena mereka berhutang budi atas jasa sang nakhoda.

Sebagai pecinta Persija dan hanya sebagai orang awam yang tidak terlalu mengerti bagaimana cara manajemen mengurus sang macan, kami hanya bisa menuntut seperti yang manajemen gembar-gemborkan tahun lalu, yaitu “saatnya kembalikan kejayaan” dan filosofi “Spirit To Basic” juga seakan menggambarkan bahwa manajemen akan benar-benarmengembalikan sang macan ke Khitahnya. Yaitu menjadi “First Contender”perebutan juara, bukan lagi sebagai tim pelengkap untuk menaikan pamor sebuah turnamen.Bukan lagi tim medioker yang selalu saja memiliki masalah klasik. Apalagi tim yang berjuang untuk sekedar lolos zona degradasi.

So, we can just “ask” like this : “Ini saatnya kita kembalikan kejayaan!” atau “ini saatnya kita kembalikan kejayaan?”

Penulis : (Panji Eka Sapta-JO)



You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Log In

Top Skor PERSIJA Di Liga 1 2019

1. Marko Simic (1 Gol)

2.

3.

4.

5.

Instagram @JakOnline01

Facebook

Terbaru