JakOnline Supporting PERSIJA Through Cyber World

Membahasakan Kerinduan

IMG_1580 copy

JakOnline – Ada warna yang kembali menyala, warna yang seakan menjadi identitas kota. Warna yang seakan pudar untuk beberapa saat, namun sore itu kembali memancarkan sinarnya. Mewarnai setiap sudut kota dengan kekhasan yang merupakan sebuah kebanggan bersama. Ada bendera yang kembali berkibar. Nampak banyak lipatan dari setiap kain-kain yang mereka anggap sebuah kesucian, kain yang selalu mereka angkat dan berusaha mereka kibarkan. Lipatan yang menggambarkan berapa lama kain tersebut disimpan tak dikeluarkan. Ada salam yang kembali mengemuka. Entah saling kenal atau tidak. Dua jari bersebelahan yang apabila mereka acungkan menjadi simbol persaudaraan.

Stadion Utama Gelora Bung Karno sore itu kembali bergemuruh. Bukan lagi karena ada tetangga-tetangga yang sedang bertamu. Kali ini, sang tuan rumah lah yang memiliki hajat untuk membangkitkan lagi stadion penuh sejarah itu. Jalan disekitar stadion, yang biasanya hanya macet pada jam-jam kerja justru kembali penuh sesak yang justru terjadi pada akhir pekan. Seluruh elemen tumpah ruah, saling salam saling sapa, merasa saudara, menjadi satu untuk satu tujuan: menumpahkan kerinduan. Tidak peduli berapa lama waktu yang dihabiskan untuk memasuki kawasan Senayan, yang penting terus bernyanyi, menyuarakan kerinduan. Gebukan drum tidak tinggal diam, klakson atau terompet gas sengaja dibunyikan. Tidak peduli seberapa sulit mencari parkir, bahkan sampai harus parkir di pinggir jalan. Terdengar pula peluit dari pak polisi yang tak hentinya membantu kelancaran perjalanan.

Seperti biasa, calo berkeliaran menawarkan secarik kertas tanda masuk. “Mau ekonomi atau pi-ai-pi?” Tanya mereka. Pedagang kembali menggelar lapaknya, syal, kaos, hingga kemeja. Sepuluh ribu hingga seratus ribu. Tidak ketinggalan pula, teriakan menawarkan air mineral “di dalam mahal” “di dalam enggak ada yang jual” “mumpung ada” seru mereka. Ah, rindu juga. Walaupun harga segelas jeruk sachet dingin yang mereka hargai hingga 3 kali lipat dari biasanya, dirasa tak masalah, karena tak terbayang berapa lama mereka kehilangan penghasilan. Mereka-mereka yang juga bisa disebut korban, dari carut marutnya persepakbolaan negeri ini.

Antrian sudah terliat di setiap pintu. Berdiri teratur dari ujung ke ujung. Sabar untuk bertemu “sang kekasih” terkadang dibutuhkan. Satu persatu masuk. Berlarian meniti anak tangga. Mencari tempat duduk (yang pada akhirnya jarang mereka duduki) untuk mendapatkan sisi penglihatan terbaik. Tidak lupa berkenalan satu sama lain, menanyakan asal dan basa basi lainnya. Naik apa dan parkir dimana merupakan pertanyaan yang lazim dilontarkan.

Syal-syal telah mereka bentangkan, bersiap menyambut “sang kekasih” memasuki lapangan. Inikah kerinduan? Hati bergetar mendengar chant-chant yang terus dilantunkan sepanjang pertandingan. Tidak tinggal diam, suara serak bukan menjadi halangan. Duduk sejenak, kemudian berdiri lagi. Mengangkat tangan, menggoyangkan ke kiri dan kanan, mengayunkan ke depan dan belakang. Kompak dalam satu komando.

Bahkan, alampun menumpahkan kerinduan. Jakarta yang tak biasanya hujan. Hari itu langit seakan menuangkan segala kerinduan yang telah terpendam lama. Entah rindu atau justru amarah, air jatuh dikala “sang kekasih” sedang jeda dari pertandingan pertama. Bayangkan saja, sudah berapa lama tak bertemu, justru di jeda oleh 45 menit kedua, “gak tau lagi kangen-kangennya apa” mungkin jika bisa bersuara, begitu mereka berbicara. Satu jam lamanya tak kunjung reda. Lapangan yang sempat menggenang juga menjadi saksi, rindu-rindu bercampur sedikit ‘kekesalan’ yang berjatuhan dari langit. Yang di tribun pun tak tinggal diam. Petasan, kembang api, sampai red flare terus menyala. Seruan pengawas pertandingan melalui pengeras suara diacuhkan. Tau apa kalian tentang bagaimana rindunya kami, jerit dalam hati. Namun, mungkin alam mulai tersadar. Semakin lama menumpahkan amarahnya, semakin lama rindu itu tidak tersalurkan. Akhirnya hujan berhenti, pertandingan kedua dilanjutkan hingga selesai.

Sesi kedua tampilnya “sang kekasih”. Seakan tidak merasakan lelah, seluruh penjuru kembali berdiri. Meloncat-loncat, melambaikan tangan, memutar-mutar syal di udara. Apalagi yang perlu kami tunjukkan bahwa kami rindu. Mexican Wave yang tak kunjung henti hingga beberapa putaran. Tidak cukupkah itu semua untuk menunjukkan bahwa kami rindu?

Pada akhirnya “sang kekasih” mengangkat trofi, walaupun bukan trofi berharga. Tapi, bolehkah kami sebut trofi kerinduan? Memang tidak ada selebrasi sang kapten ke penjuru lapangan, merentangkan kedua tangan hingga melepaskan tinju ke udara. Tapi cukuplah bagi kami pertemuan sore itu sebagai obat penawar kerinduan. Yang akan sulit kembali dihadirkan, karena stadion GBK yang akan masuk masa renovasi cukup lama. Setidaknya, kami menunjukkan kami setia, kami selalu ada. Dan kami (selalu) disini, untukmu, Persijaku!

Penulis : (Muhammad Iqbal Fajar-JO)
Foto : (Syarif-JO)



You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Log In

Go-Jek Traveloka Liga 1 - Season 2017

Top Scores PERSIJA

1. Luiz Junior (2 Gol)

2. Rudi Widodo (1 Gol)

3.

4.

Facebook

Terbaru