JakOnline Supporting PERSIJA Through Cyber World

Justice For Fahreza

20160516_211523

JakOnline – We often hear jika supporter klub sepakbola lokal di Indonesia, harus mencontoh perilaku supporter klub sepakbola dari Negara lain, terutama Negara-negara Eropa. Tapi sangat jarang kita mendengar kalimat “aparat keamanan yang bertugas saat sebuah pertandingan sepakbola klub lokal berlangsung, harus belajar dari aparat keamanan yang bertugas untuk sebuah pertandingan sepakbola di Negara lain”. Sebab mindset yang tertanam di masyarakat adalah kelompok supporter klub sepakbola lokal, adalah sekolompok orang-orang yang fanatik terhadap sesuatu sehingga bersedia berbuat onar bahkan rela mati untuk klub yang dicintainya. Padahal, jika kita mau sedikit bijaksana dalam melihat, supporter klub di Negara lain pun gemar juga melakukan keonaran.

Minggu kemari, seorang pemuda berusia 16 tahun bernama Fahreza, harus meregang nyawa setelah koma selama dua hari, akibat dugaan penganiyaan yang dilakukan oleh aparat keamanan. Fahreza memiliki tiket sah untuk menonton pertandingan, namun entah kenapa dia malah berakhir dengan menjadi korban penganiyaan oleh satuan pengamanan yang seharusnya melindungi dan mengayomi. Jika memang ada yang salah, apa perlu harus dengan kekerasan? Apalagi, korbannya adalah anak di bawah umur.

Beberapa hari lalu bus milik Manchester United yang berisi pemain dan official, dicegat oleh banyak pendukung West Ham United yang membuat pertandingan harus ditunda selama kurang lebih 45 menit. Yang menarik adalah bagaimana aparat keamanan bisa mengendalikan situasi sehingga tidak terjadi bentrokan antara pendukung West Ham United dengan mereka. Mereka memiliki Police Support Unit, satu khusus pengamanan supporter ketika pertandingan sepakbola berlangsung. Mereka tidak bertindak kasar terhadap supporter, tidak memaki dan tidak melakukan kontak fisik dengan supporter selagi tidak dibutuhkan. Sangat berbeda dengan yang saya lihat di Indonesia (terutama Jakarta, sebab saya tinggal di Jakarta).

Anak-anak muda yang bergerombol tidak jarang dibentak oleh pihak keamanan hanya karena mereka asyik bercanda dan sulit diatur. Razia benda-benda yang berlebihan. Menjual kembali tiket yang diserahkan oleh penonton yang sudah masuk ke dalam stadion untuk mereka yang tidak membeli tiket di loket resmi (memberikan kesempatan banyak orang untuk menonton pertandingan secara illegal). Mengancam memberi hukuman fisik bagi supporter yang berani memprotes (saya pernah melihat teman-teman saya dipukuli dan hampir dipukuli, seorang wanita karena dia memprotes perilaku aparat yang bertindak sewenang-wenang). Itu semua fakta yang terjadi di lapangan.

Bijaknya, dengan lapang harus diakui bahwa satuan pengamanan masih jauh dari kata sempurna dan perlu memperbaiki diri baik secara institusi maupun individu di dalamnya. Belajar lagi dengan mencontoh satuan keamanan di Negara lain seperti kalian menghimbau para supporter untuk melihat supporter di Negara lain. Lalu, perlakukan supporter selayaknya manusia. Tanpa gertakan, tanpa ancaman. Sebab tugas kalian adalah melindungi dan mengayomi, bukan menebar kebencian dengan dalih ketidakaturan.

Untuk kasus Fahreza, jelas saya mengharapkan kelanjutan pengusutan. Agar tidak ada lagi kejadian serupa. Agar tidak ada lagi kesewenang-wenangan. Tidak ada lagi kekerasan yang terjadi dengan brutal dari kalian aparat keamanan.

Terakhir, semoga alm. Fahreza diberikan tempat yang layak di sisiNya. Rest in Pride, Fahreza! Kami di sini akan terus bersuara untuk keadilan. #JusticeForFahreza #UsutTuntas

Penulis : (Edjahanafiah-JO)
Foto dan Video : (Zani-JO)

 

JOVLOG O6 Justice For Fahreza

Galeri Foto Aksi Tabur Bunga, Lilin, dan Doa Untuk M. Fahreza



You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Log In

Go-Jek Traveloka Liga 1 - Season 2017

Top Scores PERSIJA

1. Luiz Junior (1 Gol)

2. Rudi Widodo (1 Gol)

3.

4.

Facebook

Terbaru