JakOnline Supporting PERSIJA Through Cyber World

Tetap Kuat Jak! Part 1

IMG_4980

JakOnline – Mungkin di sini gue akan terlebih dahulu menceritakan apa yang gua lihat, dengar, dan rasakan dari apa yang terjadi di GBK, Sabtu lalu. Walaupun sebenarnya belum ada kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan gue ketika menonton pertandingan Persija melawan Sriwijaya FC kemarin. Entah sedih, marah, malu, puas, entahlah.

Persija yang sebenarnya bermain cukup baik setidaknya sepengelihatan gue, entah kenapa tidak berbanding lurus dengan mood yang gue rasakan, dan mungkin sebagian penonton yang hadir langsung di GBK kemarin juga mengalami hal sama. Pertandingan yang berjalan menarik, perlahan mulai terganggu oleh noise yang ada di sekitar lapangan. Mulai dari suara ledakan dari dalam dan luar stadion, hingga pengeras suara panitia penyelenggara yang berkali-kali menghimbau penonton untuk tetap tenang.
Gangguan-gangguan tadi semakin terasa ketika pertandingan memasuki pertengahan babak kedua. Mulai dari insiden pitch invader, hingga turunnya penonton dari tribun timur dan membanjiri sisi lapangan pertandingan untuk mengejar aparat keamanan yang pada saat itu tengah berjaga. Sisanya, kita semua tahu apa yang terjadi di kawasan GBK malam itu.

Ada sesuatu yang kurang berjalan dengan baik di sini, terutama untuk edukasi suporter. Gue termasuk orang yang percaya bahwa the Jak tidak akan menyerang lebih dulu. Ibarat belum ada yang jualan, apa yang mau dibeli. Tapi, jangan juga melakukan tindakan yang bisa membuat posisi kita justru menjadi sasaran empuk.

Seperti dengan menyalakan kembang api, redflare, smokebomb dan lain-lainnya, yang pada akhirnya bisa muncul alibi dari polisi mengatasnamakan “pengamanan” untuk memancing balik emosi teman-teman Jakmania yang hadir. Nangkep gak? Arti kata, jangan sampai terpancing oleh tindakan beberapa pihak yang memang sengaja sudah menyiapkan “perangkap” untuk “menggoreng” nama kita, nama Jakmania.

Provokasi dan pancingan sebisa mungkin ditahan dulu ketika 90 menit pertandingan. Lewat dari itu, waktu dan tempat kembali ke individu masing-masing. Intinya harus bisa membedakan kapan harus merespon, kapan harus stay cool. Kembali ke edukasi, saat ini Jakmania butuh figur yang dihormati, yang bisa bertindak tegas jika memang dari Jakmania sudah mulai terlihat keluar dari batas aman.

Tindakan pengamanan yang dilakukan oleh pihak kepolisian juga dirasa agak tidak pada porsinya, terutama di luar stadion yang cenderung lebih gelap, dan sangat sulit ditangkap jelas oleh kamera media televisi. Polisi kalap! Siapapun yang memakai atribut Persija di depan mata, pasti dihajar habis-habisan. Petugas keamanan seperti kehilangan akal sehat dan kesadaran ketika menindak para suporter yang mereka anggap biang kerusuhan. Padahal tidak semua yang ada di situ bermaksud untuk ikut menyerang polisi. Ada yang memang kebetulan mencari jalan pulang, juga menjadi sasaran amuk polisi-polisi, yang mungkin belum lama mengenakan seragam Korps Bhayangkara.

Kemudian ekspos dari media kepolisian juga terlihat sangat jelas berat sebelah. Sangat bertolak belakang jika dibandingkan dengan insiden Fahreza beberapa waktu lalu. Hingga saat ini, pihak Persija dan Jakmania sudah menyatakan sikap dan meminta maaf atas apa yang terjadi kemarin. Namun alangkah baiknya jika hal yang sama juga dilakukan oleh pihak kepolisian. Polisi terlihat seperti enggan disalahkan atas kekacauan 24 Juni lalu di GBK. Padahal sudah jelas gas air mata polisi menjadi salah satu faktor yang paling dikeluhkan oleh sebagian besar penonton yang hadir, bahkan para pemain sekalipun.

Posisi tawar Jakmania akan selalu rawan. Bahkan jika kita tidak melakukan kesalahan sedikitpun, dalam sekejap mata, kita bisa menjadi pihak yang dianggap salah. The Jak akan selalu terlihat salah di mata awam, apalagi jika ditambah framing beberapa media mainstream untuk membuat berita yang mereka anggap menjual. Satu-satunya hal realistis yang bisa kita lakukan adalah menuruti dan menaati himbauan yang dikeluarkan, baik dari operator turnamen, panpel, bahkan PP Jakmania sendiri. Seperti yang gue sempat singgung di atas, kalau tidak ada yang jual, apa yang mau dibeli. Kalaupun mereka jual, gak selalu harus kita beli. Agak selektif sedikit, karena kita punya standar tinggi.. (bersambung)

Penulis : (Abdillah –JO)
Foto : (Zani-JO)



You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Log In

Go-Jek Traveloka Liga 1 - Season 2017

Top Scores PERSIJA

1. Luiz Junior (1 Gol)

2. Rudi Widodo (1 Gol)

3.

4.

Facebook

Terbaru