JakOnline Supporting PERSIJA Through Cyber World

We Love You Persija

IMG_4550

JakOnline – Hari ini pertama kali gw menulis setelah sekian lama “tutup buku” tentang Persija. Sebelas pertandingan tanpa kemenangan, ada apa dengan Persija? Terusir dari Jakarta, materi yang “seadanya”, dan semangat yang kian luntur.

Sekarang gak ada salahnya kita coba mundur ke awal tim ini dibentuk menjelang ISC A. Sorry gw harus menyebutnya dengan kata “kita” karena faktor keterpurukan ini bukan dari satu elemen saja. Dan kebangkitan nanti juga tidak hanya bergantung pada satu elemen saja. Berikut analisa opini dari apa yang gw lihat.

1. Persiapan Mepet
Sebelum ISC dimulai banyak turnamen yang telah diikuti Persija. Namun tidak seperti tim lain, manajemen seakan-akan hanya ingin Persija ada di dalam turnamen tersebut tanpa ada persiapan yang matang. Pemain hilir mudik datang dan pergi dari pelatih satu ke pelatih yang lain. Persija tidak punya banyak pemain yang loyal, tidak seperti Persib, Persipura, atau Arema. Hanya Andritany, Ismed Sofyan, Amarzukih, serta Ramdhani Lestaluhu yang masih ingin bertahan demi lambang Monas di dada. Ditambah Bambang Pamungkas, Rahmat Affandi, dan Rudi Setiawan yang kembali setelah “menimba ilmu” di klub lain. Hal ini yang menurut gw akhirnya Persija tidak memiliki karakter dalam bermain. Pelatih berganti komposisi dan karakter ikut berganti. Pemain harus beradaptasi dengan waktu yang mepet.

2. Kalah Cepat
Jangan heran kalau kita sudah lama tidak melihat komposisi pemain yang mentereng di starting Persija. Bisa dibilang kita selalu mendapat pemain “sisa” saat bursa transfer dibuka. Pemain hebat dan muda berbakat sudah diambil oleh klub-klub yang punya ambisi kuat. Terlepas dari manajemen punya uang atau tidak, tapi keseriusan manajemen dalam membangun tim seperti setengah hati.

3. Pemain Muda
Memang tidak ada salahnya kita percaya dengan para pemain muda. Bahkan harus sejak dini kita memberikan kesempatan bermain bagi para pemain muda. Tapi bukan berarti kita bergantung dan terlalu pede dengan kehadiran mereka. Justru hal itu akan menjadi beban mental untuk mereka. Persija tim besar, bukan lagi tempatnya untuk coba-coba pemain. Perpaduan antara pemain berpengalaman dan berkualitas dengan pemain muda bertalenta justru lebih masuk akal ketimbang bertumpu pada pemain muda yang belum terasah mental bertandingnya. Alhasil sebelas pertandingan tanpa kemenangan membuat mental Rudi Setiawan, Ambrizal Umanailo, Sutanto Tan, dkk menjadi hancur.

4. Pemain Asing
Lagi-lagi waktu yang mepet membuat Persija dikejar waktu dalam merekrut pemain asing. Memaksakan diri untuk membeli pemain yang belum pernah bermain di Indonesia, hasilnya seperti membeli kucing dalam karung.

5. Sombong
Poin ini yang sangat gw garis bawahin. Sering kali gw liat komen-komen rasis dan sombong di media sosial dari orang-orang yang katanya pecinta Persija. Satu contoh saat kita di “pucuk” dengan status tidak pernah kalah padahal baru 3-4 pertandingan. Apalagi saat itu sang rival Persib Bandung sedang terpuruk, banyak komentar “sombong” dibeberapa media sosial yang saat itu sedang mengupload hasil pertandingan Persib atau apapun yang berhubungan dengan ISC. Faktanya mereka saat ini ada DI ATAS kita Jak. Dan jangan lupa, betapa sombongnya kita ketika menolak Hilton Moreira untuk dikontrak Persija. Hasilnya ia mampu mencetak gol ke gawang Persija dan ada dijajaran daftar top skor. Ayolah, kita jadi suporter yang rendah hati dan jangan selalu menyombongkan hal yang sudah berlalu. Kompetisi bukan hanya satu /dua pertandingan, kompetisi ini panjang sampai nanti kita jadi juara.

6. Smoke Bomb dan Flare
Gw akuin smoke bomb dan flare itu keren bikin kita terlihat kaya suporter-suporter di luar negeri. Tapi kalo merugikan tim apa itu masih bisa dibilang keren? Kalian sadar gak kalu selama ini permasalahan yang membelit Persija adalah financial. Gaji yang terlambat, tidak mampu beli pemain mahal, dan sponsor yang sedikit. Kalau setiap pertandingan kena denda, ya lama-lama duit manajemen habis, gak bisa bayar gaji pemain, pemain pindah ke klub lain, terus kalian nyalahin manajemen. Munafik gak sih? Apa gak ada cara lain, Indonesia ini punya banyak budaya yang bisa dijadikan koreografi untuk dukung Persija. Kenapa jadi kita harus ngikutin budaya luar.

7. Terlena Masa Lalu
Kita memang sudah sepuluh kali juara, sudah ada satu bintang di jersey. Kita juga superior terhadap Persib. Tapi itu masa lalu. Kita seakan lupa kalau kedepan masih panjang, ank cucu kita masih ingin lihat Persija main di kasta tertinggi. Kita terlalu bangga dan fokus dengan masa lalu, sedangkan tim lain fokus membangun tim. Hasilnya kita selalu terpuruk ditambah permasalahan yang tak hentinya membelit Persija. Jadikan masa laku pelajaran buat kita bangkit, karena masa laku bukan untuk disombongkan.

Semoga dengan tulisan ini kita bisa sama-sama introspeksi diri. Tidak lagi menyalahkan manajemen semata, tapi juga saling memperbaiki diri. Jadikan keterpurukan ini sebagai titik balik kita jadi suporter yang rendah hati dan tidak sombong. Saling mengingatkan teman-temannya Jak untuk selalu tertib dan melakukan yang terbaik untuk Persija.
Mohon maaf apabila dalam tulisan ini ada kata-kata yang menyinggung perasaan. Maaf atas segala kekurangannya. Terima Kasih.

We Love You Persija
“Lekas Sembuh”

Penulis : Putra Gilang Permana
Foto : (Syarif-JO)



You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Log In

Go-Jek Traveloka Liga 1 - Season 2017

Top Scores PERSIJA

1. Luiz Junior (2 Gol)

2. Rudi Widodo (1 Gol)

3.

4.

Facebook

Terbaru