JakOnline Supporting PERSIJA Through Cyber World

#PersijaGW dan Restrukturisasi Persija

gede

JakOnline – Kemarin, para pecinta Persija Jakarta mendapat sebuah kabar besar. 14 Maret 2017 Persija resmi kedatangan seorang direktur baru yang kelak akan berjuang bersama mengarungi kerasnya Liga 1 bersama Macan Kemayoran. Hastag #PersijaGW digunakan guna melambangkan era baru Persija Jakarta. Hastag yang entah kebetulan atau sudah dikonsep sebagai branding merupakan inisial dari sang Direktur Utama baru Persija Bapak Gede Widiade.

Dalam preskon yang digelar di Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan ini dijelaskan bahwa tampuk kepemimpinan bapak Ferry Paulus yang sudah sekian tahun mempimpin Persija beralih ke bapak Gede Widiade. Namun Pak Ferry Paulus tak serta-merta meninggalkan Persija begitu saja, ia masih mengkonfirmasi sebagai pemilik saham mayoritas (>50%) Persija Jakarta. Namun ia kini menjabat sebagai Presiden Komisaris dan tak lagi mengurusi urusan teknik manajerial yang kini diambil alih oleh pak Gede Widiade. Inilah yang berulang kali pak Ferry Paulus atau yang biasa kita sebut FP sebut dengan istilah “Restrukturisasi” Persija. Dimana struktur manajerial Persija kini dirombak dibawah pimpinan pak Gede Widiade atau biasa dikenal pak GW. Ia memimpin langsung segala aktifitas manajerial Persija, mulai dari Planing, Leadership, Organizing, Actuating dan Controlling. Ia bertanggung jawab langsung ke pimpinannya yaitu Presiden Komisaris pak FP.

Lalu, apakah ini berita baik? Yaaa… tentu saja. Ini adalah angin segar bagi Persija Jakarta yang sudah bertahun-tahun mengalami kesulitan dalam hal pendanaan. Sulit mendapat sponsor atau investor untuk menutupi segala kebutuhan tim selama ini. Ada kekhawatiran akan berubahnya identitas Persija dengan adanya “Restrukturisasi” ini. Apalagi mengingat sepak terjang pak GW beberapa tahun terakhir di kancah persepakbolaan Indonesia. Ditambah lagi dengan adanya hastag #PersijaGW seakan-akan ini adalah identitas baru Persija. Tak perlu risau dengan adanya beberapa cuitan “ribet” dari akun-akun sok tahu di dunia maya. Mengganti identitas sebesar Persija tidaklah semudah itu. Balik lagi ke paragraf diatas. Dimana pak GW selaku direktur baru Persija bertanggung jawab pada Presiden Komisaris pak FP. Dimana keputusan tertinggi ada di tangan beliau.

Masuknya Pak GW sebagai direktur baru Persija haruslah kita sambut dengan khusnudzon, optimis dan terus kita kawal kinerjanya. Sebagai supporter Persija, pak GW membutuhkan berbagai saran dan kritik dari kita selaku pihak eksternal. Saya yakin pak GW tidak akan melakukan hal-hal bodoh seperti mengganti identitas Persija Jakarta. Karena pada ia sudah menggelontorkan dana besar untuk Persija yang notabe nya tidak memiliki banyak aset berharga. Tidak ada mess, stadion, Training Ground dll. Hanya 2 aset berharga yang dimiliki Persija, yaitu Goodwill (Nama Besar) dan The Jakmania. 2 aset inilah yang tak ternilai yang justru akan hilang jika pak GW merubah identitas Persija. Sama saja ia hanya membuang-buang uangnya dengan sia-sia. Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah berapa uang yang digelontorkan pak GW untuk Persija? Berapa persentase saham yang ia miliki di Persija? Apa remcana pak GW selaku Direktur Utama baru kedepannya untuk Persija? Mari kita bahas satu per satu. Kita bahas bersama lho yaa… karena masalah internal ini masih bersifat rahasia dan tidak dipublish secara gamblang.

Jumlah tepatnya nominal yang digelontorkan pak GW jelas kita tidak ketahui berapa. Baik pak GW maupun FP masih terkesan menutup-nutupi hal tersebut. Begitu pula persentase saham Persija kini habya kita bisa ketahui FP punya > 50% lalu ada pak GW sekian % dan nanti akan ada si A, si B, si C dan seterusnya. 2 pertanyaan yang masih saja kita tidak ketahui jawabannya secara kongkrit. Tapi, apa itu salah? Tentu tidak. Bagaimanapun itu merupakan dapur perusahaan manajemen Persija. Tak selayaknya di publish secara terbuka ke publik. Jadi, kalo ada akun-akun media sosial atau beberapa orang yang mencoba memancing di air keruh terkait masalah ini, mereka tidak lebih hanya ingin merusak kesempatan kita untuk selangkah maju kedepan. Sama saja dengan beberapa PT besar lainnya (misal Unilever, Indofood, Bank-Bank swasta dll), apakah mereka mempublish struktur manajerial dan kepemilikan saham mereka? Tentu tidak sepenuhnya dibuka dengan gamblang. Sekalipun dengan perusahan-perusahaan yang sudah go public.

Tapi di sisi lain tentu kita bisa mengetahui detail mengenai hal tersebut jika kita punya kepentingan (seperti ingin memiliki saham minoritas atau mayoritas). Maka manajemen pasti akan menunjukan laporan keuangan serta struktur manajerial Persija. Hal ini lah yang dilakukan PT Jakpro beberapa tahun lalu. Saat mereka ingin mengakuisisi Persija atas perintah bapak Gubernur DKI. Namun hal itu urung dilakukan mengingat kala itu Persija memiliki utang mencapai 70M. Bahkan saat restrukturisasi dengan pak GW kemarin, FP menjelaskan bahwa utang Persija mencapai 90M.

Lalu muncul lagi pertanyaan, utang kepada siapa? Ke FP? Lho kan FP pemilik Persija, kenapa Persija punya utang pada pemiliknya sendiri? Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita harus flashback cukup jauh kebelakang. Kurang lebihya penjelasannya dari yang saya rangkum dari berbagai informasi seperti ini. Dimana saat itu awal mulanya FP memimpin Persija dan saat itu adanya perampokan identitas Persija oleh pihak lain. Saat itu (diberitakan) saham mayoritas Persija dimiliki oleh 30 klub internal. Posisi 30 klub internal ini sama seperti posisi FP sekarang pasca restrukturisasi.

Dimana FP ditunjuk untuk mengurusi Persija dalam hal manajerial. Sayangnya FP gagal mendatangkan sponsor-sponsor atau investor-investor lain guna melengkapi kebutuhan tim. Alhasil FP “Menalangi” pembiayaan klub kita tercinta ini. Tahun demi tahun berganti. Kemampuan FP pun tak kunjung membaik dari sisi mendatangkan para pemilik modal guna bekerja sama membangun Persija. Maka FP teruslah yang membiayai semua kebutuhan tim. Mulai dari sewa mess, sewa lapangan latihan, akomodasi, tempat tinggal pemain asing, dll. FP hanya mampu mendaratkan beberapa sponsor tiap tahunnya yang tidak bisa menutupi biaya Klub setahun penuh. Bahkan kalau mau terbuka, manajemen dibawah FP sangat tergantung dengan pemasukan melalui tiket dari kita semua. Misalkan sponsor besar yang menempel di dada hanya menggelontorkan 5-10M tiap tahunnya. Pemasukan dari tiket pertandingan bisa mencapai 500juta bahkan lebih per pertandingan (jika main di GBK). Tapi faktanya beberapa tahun terakhir Persija sulit main di Jakarta dan menyebabkan pemasukan tiket menurun drastis dan mau tak mau FP lagi yang menambal kebutuhan tim. Maka tak heran jika utang persija ke FP mencapai 90M sekarang ini.

Satu pertanyaan terakhir yang belum kita bahas adalah rencana pak GW kedepannya buat Persja. Ada 1 kalimat yang saya suka saat preskon kemarin dari pak GW. “Persija itu milik Jakarta. Persija harus main di Jakarta. Messnya di Jakartq. Latihannya ri Jakarta. Bus nya plat B”. Secara tersirat pak GW memang ingin mengembalikan Persija ke Jakarta. Dimana itu akan memudahkan ia meraih sponsor dan keuntungan lebih mudah jika Persija berada di pusat perekonomian Indonesia. Secara tersirat pula bahwa pak GW tidak memiliki tujuan untuk merubah identitas Persija dan membawa pergi Persija dari Jakarta. Satu-satunya perubahan identitas yang mungkin masih bisa diterima hanyalah merubah atau lebih tepatnya memodifikasi logo Persija. Beberapa klub besar di Eropa pun beberapa kali memodifikasi logonya. Sebut saja Inter, Chelsea, Man City, West Ham, AS Roma dan yang teranyar Juventus baru saja merubah logo mereka awal tahun ini. Hal-hal tersebut dilakukan dalam upaya rebranding tim. Sampai disiitu saja cukup. Tak perlu lah mengganti atau menambah-nambahi nama klub, mengganti warna kebesaran atau membawa pergi klub ke kota lain. Mungkin jika manajemen baru Persija ingin melakukan rebranding di logo baru Persija. Jangan meninggalkan ciri khas Persija yaitu lambang monas dan tulisan Jaya Raya. Lagipula logo yang dipakai sekarang adalah logo resmi pemda DKI. Dan kini Persija bukanlah milik Pemda Dki seperti dulu. Persija sudah mandiri dan tak lagi bergantung pada APBD.

Untuk menutup artikel ini, saya ingin mengutip kata-kata Ketua Umum The Jakmania “Bung Ferry”. “Seorang pemenang selalu berfikir positif dan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Serta senantiasa memikirkan langkah ke depan untuk hari yang lebih baik”. Persija adalah Jakarta. Jakarta kotanya para pemenang. So… sudah selayaknya kita berlaku layaknya pemenang. Positif thinking, optimis, selalu memiliki rencana ke depan dan selalu kawal kinerja manajemen baru ini. Jangan mudah percaya pihak-pihak yang “ribet” dan sok tahu untuk memprovokasi di dunia maya.

Penulis : (Panji Eka Sapta -JO)
Foto : (Qharry/Jerry-JO)



One Comment

  1. Pingback: Persija Foundation » #PersijaGW dan Restrukturisasi Persija

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Log In

Go-Jek Traveloka Liga 1 - Season 2017

Next Match

GRESIK UNITED – PERSIJA JAKARTA

12. Match Day

July 4, 2017, 15:00

Top Scores PERSIJA

1. Luiz Junior (2 Gol)

2. Rudi Widodo (1 Gol)

3.

4.

Facebook

Terbaru