JakOnline Supporting PERSIJA Through Cyber World

Tak Kenal maka kenalan lah…

DSC_0091

Sebelum anda, Mas Fajar Martha membaca ini saya ingin anda membacanya dengan santai, rileks dan ditemani kopi hitam merk liong bulan

JakOnline – Saya orang yang lahir dan besar di Jakarta, kebetulan semenjak menikah awal tahun ini saya tinggal di Depok. Sebagai orang yang bukan asli Jakarta saya tidak terlalu familiar dengan kebudayaan Betawi, Ibu saya Betawi Jagakarsa dan Ayah saya perantau dari Sumatera. Di belakang nama saya ada marga leluhur saya, sebagai orang generasi kedua tentunya saya adalah generasi abu-abu, tak hitam tak juga putih. Saya rasa ada banyak orang seperti saya di Jakarta, bukan betawi asli ataupun perantau tulen. Satu-satunya hal yang menunjukkan kebetawian saya hanyalah logat saja, madikipeeee.

Jakmania lahir di era saya beranjak dewasa, era disaat anak-anak dari generasi kedua pendatang Ibukota mulai kehilangan budaya yang dibawa dari tanah rantaunya dan mulai berakulturasi dengan budaya lokal. Tanpa mengecilkan arti pendukung akar rumput Persija yang sudah eksis dari zaman perserikatan seperti anak betawi dari Tenabang atau Kebon Jeruk, faktanya Jakmania pun berdiri pada tahun 1997 saat Persija mulai ditinggalkan grass root pendukungnya.

Jakmania saat ini adalah salah satu organisasi supporter di Indonesia, anggotanya melintasi sekat suku, agama dan ras. Fase ini saya sebut fase ketiga, fase saat orang generasi kedua sudah mulai beranjak tua dan generasi ketiga yang lahir tahun 2000-an beranjak dewasa dan mulai mencari jatidiri. Era ini Jakmania pertumbuhannya sangat pesat bahkan bisa saya sebut ledakan, hampir semua sekolah ada Jakschool, semua kampus memproklamirkan ada unit Jakampus bahkan di daerah yang saya rasa terpencil ada komunitas pendukung Persija. Konsekuensi dari yang saya sebut ledakan adalah kondisi uncontrol dari tangan-tangan organisasi, kemampuan yang terbatas untuk mengorganisasikan fans yang Mas Fajar sebut liar dan kencendrungan fans Persija bergerak dalam kelompok kecil diluar naungan organisasi adalah fakta yang tidak bisa dikesampingkan. Organisasi pun tidak tinggal diam melihat fenomena ini, kampanye untuk tidak naik ke atap mobil sudah dilakukan sejak Persija bermarkas di GBK sekitar tahun 2008, pendirian korwil-korwil baru untuk memudahkan yang saya sebut tangan-tangan organisasi pun dilakukan, korwil terakhir yang baru saja diresmikan adalah Cikarang.

Rekonstruksi Ke-Jakartaan dapat dilihat dari tagline kaos anggota Jakmania, “Satu Jakarta Satu” ataupun “Gue anak Jakarta”, tapi rasanya di fase ketiga ini tagline tersebut sudah kurang relevan lagi, Jakmania sudah bukan “gue”, tapi “aing”, “abdi” dan lainnya. Saya setuju dengan Mas Fajar ketika menuliskan tidak sepakat dengan hal-hal primordialisme karena sepakbola adalah bahasa universal, tapi ketika “sampeyan” afirmasi bahwa anda adalah orang betawi yang tidak mendukung Persija serta melihat fakta ada Aremania yang bukan asli Jawa Timur, pada point tersebut anda justru menafikan fakta bahwa Sepakbola itu sendiri adalah universal, jadi jika ada orang betawi tidak mendukung Persija, so what? Toh dari awal konstruksi organisasi berdiri tidak pernah berikrar Jakmania adalah betawi, tetapi Persija milik semua orang Jakarta apapun latar belakangnya. Saya tak hendak menyebut ada logical fallacy disini tapi agak tergelitik saja.

Jakmania adalah movement, pasang surut riuh rendah sudah saya alami sebagai anggota biasa, tak perlu juga pembenaran atas stigma yang melekat. Adalah benar ketika Jakmania lekat dengan cap urakan, kampungan dan brutal, tapi tak elok rasanya memaksa orang lain untuk mengubah pola pikir tentang Jakmania. Jakmania akan terus berusaha menjadi lebih baik apapun tanggapan diluar sana karena yang tahu tentang Jakmania hanya Jakmania itu sendiri. Kulit hanya terlihat, tapi hati harus dirasa, mungkin ini karena Mas Fajar belum kenal Jakmania secara dekat.

Metro mini mungkin telah ditinggalkan penumpangnya, kaca-kaca gemerataknya mungkin tak terdengar lagi, tapi jalan untuk bertransformasi terbuka lebar. Seperti kerabatnya kopaja yang saat ini sudah diremajakan, sudah ber-AC, dan bisa masuk busway..muehehe.
salam kenal mas, Tabik!

Ditulis dengan penuh takzim sehabis makan siang di Weltevreden
Veranto Kurniawan- kuli galian kabel harian



You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Log In

Go-Jek Traveloka Liga 1 - Season 2017

Top Scores PERSIJA

1. Luiz Junior (1 Gol)

2. Rudi Widodo (1 Gol)

3.

4.

Facebook

Terbaru