JakOnline Supporting PERSIJA Through Cyber World

JAKARTA DENGAN TANDA SERU

JakOnline – Gue punya temen namanya Eko. Biasa dipanggil “Ambon”. Dengan nama yang kental bernuansa Jawa, sangat lucu jika ia dipanggiil Ambon. Mungkin karena dia mempunyai kulit coklat eksotis dan rambut kriting ikal. Setelah sering ngobrol, ternyata ada nama “Saiya” pada kata ketiga namanya. Yups.. dia sah sebagi putera dari Waetui di pedalaman Seram Tengah sana.

Beberapa hari ini kami sering berdiskusi hal-hal yang konyol. Tak banyak yang berubah, sama seperti pembahasan sepuluh tahun lalu. Berbicara soal sosial, kesenangan, musik hingga persiapan bertemu dengan Sang Maha Kaya.

Dengan backsound lagu melayu yang berhasil membawa kami pada nuansa tempo doeloe. Kami tergelitik memahami kalimat “Cinta Jakarta”. Sedikit teori dan bermodal retorika kosong, kami mulai meraba kulit ari dalam makna tersebut. Membahas perlahan, seperti sensasi kulit bertemu kulit.

Cinta akan Jakarta.
Kota dimana lo tinggal dan menjemput mimpi lo. Kota yang lo bela habis-habisan ketika ada yang menghinanya. Seberapa kenalkah elo dengan sesuatu yang lo bela itu? Apa karena sesuatu yang kebetulan? Gw yakin engga! Lo cinta Jakarta, lebih dari cinta lo ke cewe yang lo tungguin buat nge’seen IG story lo.

“Cinta Jakarta itu Absurd” kalo kata Si Ambon. Absurd yang indah, manis dan pantas dikenang. Cinta itu juga yang membuat kita rela bercerita secara rinci tentang Jakarta. Cinta yang memaksa lo harus bangun pagi dan jalan lebih dahulu demi sebuah janji. Cinta yang bikin lo rela angkat-angkat motor dengan stang terkunci di tumpukan parkiran Jatinegara. Cinta yang bikin lo nekat terobos banjir dan lewat gang sempit seputaran Bangka Raya.

Bukan Jakarta kalau ga ada Mas-Mas dengan ransel dan kardus mie intan di perempatan Senen selepas lebaran. Bukan Jakarta kalo ga ada Lay-Lay yang nolong ban bocor lo dengan aroma khas arak Lapo sebrangnya. Bukan Jakarta kalo ga ada celotehan ibu-ibu sosialita gang sempit yang “nyamblak” gosipin anak juragan kontrakan yang pulang pagi. Ini Jakarta, dimana anak umur 8 tahun bisa teriakin lo “Ah…ngehe lo, Bang!”. Ini Jakarta, dimana Warteg Bahari selalu siap saji dibanding Nasi Uduk Betawi.

Jakarta kental dengan kharismanya. Penuh wibawa, walau kadang sangat feminis tampilannya. Eksotis sederhana bak Prisia Nasution berupa kota. Hanya saja kadang warganya berselimut plastik bagai Dj Butterfly yang video livenya ngabisin kuota.

Para perupa tingkat internasional sibuk menghias kota ini dengan dana asing. Bagunan beton bertingkat puluhan bagai kuil sesembahan era modern membuat pusing. Lampu berkelip musik pemacu adrenalin, jadi tujuan si miskin bergaya Don Juan.

Ini kota gue! Tempat yang asik berdiskusi membangun. Ini kota gue! Surau yang asik bersila merenung. Sayangnya..kota ini semakin hilang hangatnya ketika generasi 90an tak mengenal Sanggar Wayang Bharata di Senen. Ataupun Teater Miss Tjitjih di Cempaka Baru, Kemayoran. Alunan Keronjong Tugu dari jemari lentik peninggalan Portugis. “Roots dan Culture” Jakarta lahir salah satunya disini.

Jakarta hampir tak ada tempat untuk bicara rasis. Karena sebagian besar warganya biasa dipanggil dengan sebutan ; Ambon, Jawa, Arab ataupun Ncek. Jakarta kelihatan keji bagi yang kenyi. Jakarta humoris bagi mental-mental Janggo. Indah ketika Sang Herbert bisa bertukar pikiran dengan para pendatang dari Gujarat.

Jakarta belum berubah… selama sejuknya Sholawat Tarkhim mengantarkan lo beranjak dari tidur untuk berjamaah ke masjid terdekat (bukan yang baru pulang begadang). Jika macet dan banjirnya yang selalu mereka kenang. Tentu tak ada lagi orang yang datang. Jakarta bukan hanya Betawi, kultur disini telah ngeblend ketika Ya’kub cucu juragan kontrakan justru mengontrak rumah Ali Bakso dari Wonogiri. Dan ketika kata “nge” menjadi imbuhan dari kata asing. Artinya lo udah sampai di Jakarta. (Ngepunk, Ngesave dan nge nge yang lainnya)

Jakarta sekarang cuma hadir di dunia maya. Lewat status FB. Cuitan nyinyir di twitter. Atupun selfie lucuk di atas flyover. Rindu Jakarta dengan ruang-ruang nyata. Ruang nyata yang terlihat menyeramkan ketika “sabtu seru” kreasi brutal pelajar SMA di Kramat Raya. Ruang nyata interaksi anak kecil yang berlari riang sambil membawa payung di seputaran Pondok Indah Mall. Bahkan ruang nyata bubaran pengajian subuh keliling. Jakarta rindu berbagi rasa antar warganya.

Di kota ini, tak perlu menjadi orang lain. Tetap jadi Batak yang keras nan solider. Jadi Sunda yang rupawan juga ramah. Jadi Jawa yang santun bercengkok khas. Jadi Betawi berintegritas tinggi cenderung tak mau kalah. Jadi Padang yang usahawan dan berpendidikan. Dan tak lupa…tetap jadi Ambon yang manis dan sangat romantis.

Seiring habisnya kretek yang telah terbakar dan kopi yang tinggal ampasnya, pembahasan Gue dan Ambon akhirnya berakhir. Sama-sama tersenyum, dan berpesan “Sehat-sehat ye…!”. Mungkin pertemuan selanjutnya baru kami bahas soal Persija.

NB : Gue cuma nulis apa yang lagi gw alamin. Jika tulisan ini membuat lo berlinang karena terketuk. Segera ambil tissue dari seberang meja kerja lo. Jika tulisan ini membuat lo marah, mungkin makan siang lo kurang karbo. Tapi jika tulisan ini ga ngaruh apapun buat lo, coba lo baca paragraph ke lima dari artikel ini. (Cieeeee….scroll ke atas ni ye.. :p). lo baca sukur, ga baca ya gondrong.

Penulis : (Saif Atsalist-JO)
Foto : (Qharry-JO)



You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Log In

Top Skor PERSIJA Di Liga 1 2019

1. Marko Simic (1 Gol)

2.

3.

4.

5.

Instagram @JakOnline01

Facebook

Terbaru