JakOnline Supporting PERSIJA Through Cyber World

Mengukur Nalar, Menalar Rival

IMG-20170722-WA0027

JakOnline – Sejarah perjuangan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sepakbola, ia bukan hanya sekedar olahraga tetapi juga adalah alat perlawanan kolonialisme. olahraga ini tumbuh dan berkembang seiring dengan denyut pergerakan kemerdekaan, para pendiri bangsa ini menggunakan sepakbola untuk menyatukan pribumi di masanya. Soekarno, MH Thamrin dan Malaka adalah pendiri bangsa ini dan mereka menggunakan sepakbola sebagai identitas pemersatu bumi putera. Khitah sepakbola sebagai alat pemersatu bukan hanya terjadi di Indonesia, di luar sana sepakbola digunakan sebagai pemersatu kelas-kelas sosial

Fakta yang muncul akhir-akhir ini sangat bertolak belakang, sepakbola bukan lagi untuk dinikmati tetapi lebih sebagai ajang bertempur. Kerusuhan, penghadangan atau pengeroyokan yang entah sudah berapa orang meregang nyawa ketika menonton sepakbola. Rivalitas dalam sepakbola itu perlu, tanpa ada rival mungkin pertandingan akan terasa hambar tapi sayangnya rivalitas yang kebablasan dan diluar nalar sudah tidak bisa ditolerir, masih hangat diingatan nama-nama dengan tagar di media sosial silih berganti dan entah sampai kapan berhenti.

Kasus demi kasus kekerasan suporter datang silih berganti, dan sayangnya baik federasi maupun aparat tak pernah memberikan solusi, hanya ada kecaman dan kecaman tanpa ada tindakan nyata. Begitu pula dengan aparat keamanan yang hanya bisa melarang tanpa mau memberikan pengamanan kepada suporter tamu, padahal jika diizinkan dan diberikan kuota pengamanan akan lebih mudah dilakukan karena massa terkonsentrasi dan kasus-kasus pengeroyakan di tribun tidak terjadi. permasalahannya sekarang adalah mau atau tidak melakukan pengamanan, contohnya sudah pernah terjadi ketika aparat membuat Jakarta siaga saat gelaran piala Presiden.

Proses rekonsiliasi suporter memang bukan jalan yang mudah dan singkat, permusuhan yang sudah mengakar tidak bisa dihilangkan semudah membalikan tangan, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Rekonsiliasi perlahan tapi pasti hal tersebut harus dilakukan, jangan dulu bermimpi untuk bisa datang ke Jakarta ataupun Bandung, atau bahkan saling berbalas yel “apa kabarnya” atau bahkan berlalu lalang di kota rival dengan jersey kebanggaan. Hal paling mudah untuk dilakukan adalah menahan diri, berteriak lah sepuasnya di stadion atau bahkan memaki pemain lawan, selesai pertandingan semua berjalan normal kembali. Berangkat ke sekolah, pergi bekerja ataupun berkehidupan sehari-hari dengan nyaman dan tenang.

Rivalitas sekali lagi bukan justifikasi untuk menghabisi lawan, biarkan rivalitas terdengar diteriakan dan yel-yel di dalam stadion bukan dengan pukulan ataupun lemparan batu. 10-20 tahun lagi mungkin generasi selanjutnya hanya akan membicarakan tim mana yang paling berprestasi bukan kelompok mana yang paling berani. Saatnya kembali ke khitah sepakbola sebagai alat pemersatu dan Persija sebagai identitas. Jakarta telah memulai……

Penulis : (Veranto-JO)



You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Log In

Go-Jek Traveloka Liga 1 - Season 2017

Top Scores PERSIJA

1. Luiz Junior (2 Gol)

2. Rudi Widodo (1 Gol)

3.

4.

Facebook

Terbaru