JakOnline Supporting PERSIJA Through Cyber World

Persija Curang !!

2efc67b7-60bb-4dda-aaaf-5ac2ff547b64

JakOnline – Selalu saja tersaji drama dalam pagelaran pertandingan yang mempertemukan macannya Jakarta melawan macannya Bandung. Drama-drama yang terjadi sudah dimulai sebelum pertandingan digelar, sang macan Jakarta yang gagal menjamu tamulnya di kandang sendiri menjadi awal drama di laga yang dilabeli media Indonesia sebagai laga El Classico ini.

Tentunya drama selanjutnya terjadi di lapangan hijau 2×45 menit. Sayangnya drama itu tak berlangsung selama 2×45 menit. Karena wasit meniupkan pluit akhirnya di mmenit ke 83 setelah kejadian kartu merah Vujovic di menit 81. Wasit menganggap tim Persib tak berniat melanjutkan pertandingan setelah mereka menepi ke pinggir lapangan. Terhitung ini sudah kali ke 3 wasit memperingatkan tim Persib untuk untuk segera melanjutkan pertandingan.

Sebelumnya 2 kali terjadi saat tim Persib terlambat masuk lapangan untuk memulai babak ke 2. Wasit dengan tegas langsung meniup pluit panjang mengakhiri pertandingan. Padahal saat itu sudah bersiap Bruno Lopes untuk mengeksekusi tendangan bebas. Dan tentu saja rona wajah kaget terpancar di wajah pemain Persib yang tak mengira keputusan tegas sang pengadil dan tanpa ragu membawa bola keluar lapangan tanda pertandingan selesai. Lalu apa hasilnya? Apa Persija dianggap menang 1-0 oleh gol Bruno atau Persib dianggap WO dalam pertandingan?

Drama dalam lapangan sudah dimulai saat kick off babak pertama. Belum 1 menit striker asing Persib Ezechiel N’Douassel melanggar Rudi Widodo cukup keras menandakan Pertandingan akan berjalan dengan tensi tinggi. Duel Sandi Sute dan Haryono pun tak terelakan dimaana kedua pemain ini memang memiliki tipe permainan yang keras. Tackling horor Rudi Widodo selanjutnya melengkapi panasnya pertandingan yang menyebabkan Kim Jeffry mengalami cedera. Dengan tensi yang mulai memanas walau kala itu hujan turun cukup derasnya. Bahkan tak hanya duel-duel antar pemain yang membuat tensi pertandingan meninggi.

Adalah sundulan kepala Ezechiel yang tak mampu dibendung dengan sempurna oleh Andritany dan menggetarkan jaring atas gawang Persija, namun wasit tak melihat kejadian tersebut dengan jelas. Kecurigaan saya hujan lebat menyebabkan pandangan wasit menjadi tak jelas melihat kejadian yang berlangsung sepersekian detik tersebut. Protes pemain Persib membuat pertandingan terhenti sesaat. Wasit utama pun berkonunikasi dengan Asisten Wasit 2 namun keputusan tegas diambil wasit bahwa tidak ada gol terjadi. Hal inilah yang menjadi pemicu utama “ngambeknya” tim Persib dan melakukan Protes di istirahat babak pertama dan menit ke 81.

Persija Curang !! Kata itu menjadi umpatan kekesalan fans Persib karena merasa timnya dicurangi. But to be fair, memang Persija curang dimananya? Panpel Persija menyediakan fasilitas keamanan untuk tim tamu, tidak ada kerusuhan atau pelemparan berarti yang mengganggu jalannya pertandingan. Bahkan tim Persib bisa dengan leluasa keluar-masuk stadion tanpa adanya intimidasi berarti. Curang itu adalah sesuatu yang dilakukan satu pihakp (Persija) yang merugikan pihak lain (Persib) demi keuntungan pribadinya. Pihak Persija baik itu panpel, pemain, official ataupun suporter yang hadir saat itu sama sekali tidak mengindikasikan bahwa Persija melakaukan kecurangan.

Persija bisa dikatakan curang jika:
1. Adanya intimidasi dari official Persija terhadap tim Persib, mungkin seperti memukul dan upaya kekerasan di dalam stadion.
2. Adanya pelemparan dari tribun penonton yang mengganggu jalannya pertandingan bahkan mengarah untuk melukai lawan
3. Persib mengalami kesulitan akses keluar-masuk stadion bahkan butuh oengawalan didalam tameng polisi untuk itu.
4. Manajer Persija mencoba menghubungi PSSI dan meminta wasit diganti di jeda babak pertama

Jika hal itu terjadi, bolehlah kalian menganggap Persija curang. Faktanya semua itu. Saya sendiri memaklumi reaksi para fans Persib atas kejadian tersebut. Namun kalian salah sasaran jika meluapkannya pada Persija. Semua keputusan sudah diambil dengan tegas oleh wasit dengan baik. Walau ia melakukan kesalahan fatal dengan tidak cermat menyaksikan bahwa sundulan Ezechiel sudah menggetarkqn jaring atas gawang Andritany. Kesal lah pada wasit yang tidak cermat. Kesal lah pada orang yang menginstruksikan pemain Persib untuk menepi sejenak untuk berdiskusi padahal dalam sepakbola tak ada aturan seperti time out di basket atau futsal. Kesal lah pada mereka yang tak tahu aturan namun merasa selalu benar padahal tak dibenarkan dalam law of the game sepakbola. Kesal lah karena jika Persib mampu menyelesaikan pertandingan 90 menit mereka mampu pulang ke Bandung dengan kepala tegak dan bangga. Namun dengan kejadian itu hanya membuat Persib seperti pecundang dan menjadi olok-olok di sosial media.

Dan semua drama ini berujung pertanyaan: Bagaimana sikap operator liga (PT LIB) dan PSSI mengambil sikap atas segala kejadian di Solo 3 November. Mengingat segala kejadian kala itu sudah terekam dan diketahui khalayak ramai. Mampukah mereka mencontoh sikap tegas wasit Shaun Evans daalam mengambil keputusan?

Sebagai penutup saya rasa kejadian ini adalah pelajaran berharga bagi sepakbola Indonesia pada umumnya. Beberapa kebiasaan buruk yang memang tak dibenarkan dalam Law Of The Game FIFA yang selama ini masih saja terjadi karena sikap tolerir dan kurang tegas sang pengadil lapangan sudah seharusnya dihentikan dan dirubah. Beberpa kali kita dirugikan kala berlaga di kancah internasional karena masih saja membawa kebiasaan buruk yang dibiarkan di liga lokal. Sikap tegas sangat dibutuhkan untuk memajukan sepakbola Indonesia menjadi lebih baik.

Penulis : (Panjiest-JO)
Foto : (Jacka-JO)



You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Log In

Go-Jek Traveloka Liga 1 - Season 2017

Top Scores PERSIJA

1. Luiz Junior (2 Gol)

2. Rudi Widodo (1 Gol)

3.

4.

Facebook

Terbaru