JakOnline Supporting PERSIJA Through Cyber World

Terimakasih Bepe

JakOnline – Pagi itu saya terhentak dari tidur yang amat sangat kurang. Saya terbangun dari ketakutan akan waktu yang berlari kencang dan saya tertinggal dari kesempatan untuk hadir di laga Pamungkas Pesija musim 2018. Laga “Pamungkas” yang berarti laga yang penghujung akhirnya akan berakhir air mata. Jujur saya takut, gemetar, kosong, apakah ini laga “Pamungkas” yang sebenarnya saya ingin lihat. Egois saya berkata jangan berhenti disini liganya, agar “Pamungkas” itu sirna di pikiran yang mengganggu setiap detiknya.

Pada akhirnya angin bertiup menyadarkan, tepat ketika saya berpandang pada sepanjang jalan Jakarta. Lucunya Istriku berkata “Apa ini akan jadi rutinitas kita sampai kita tua?” Saya berkata lirih, “Tentu, iya, tapi akan berbeda, Tak akan ada lagi laga Pamungkas.” Tak ada lagi “Pamungkas.” Saya berucap rendah dalam hati, terus menerus dan terus, terus, terus, sampai saya mulai bisa tersenyum.

Tepat jam 11 siang, ketika roda panas kuda besi saya memecah kerumunan para pencari oase penyejuk dahaga gelar bernama the Jakmania. Seketika pikiran sudah berisikan kata-kata yang sebenarnya bukan ingin hati ucap, kalimat yang semakin membuat saya bertanya tanya, “Apakah langit berpihak kepada saya, apakah hanya saya yang tak ingin melihat laga Pamungkas ini”. Tuhan jatuhkan hujan agar saya tau indera rasa saya masih berfungsi seperti adanya.

17 tahun lalu, besar di lingkungan sederhana dimana gang demi gang berkolaborasi dengan canda bocah bocah yang belum tersentuh teknologi menjadikan Kayumanis 6 adalah sekolah alam pertama saya. Adalah Randi anak pengusaha mobil tua yang saat itu baru pulang dari pesantrennya di Ciputat, jika saya tak salah ingat. Suatu hari dia berkata dia mengidolakan seorang pemain sepakbola yang sama sekali saya tidak pernah dengar seorang pun bernafas menyebut nama tersebut kecuali dia.

Dia bercerita tentang tim yang baru saja juara Liga Indonesia. Dengan gaya ala anak pondok nya dia berkata “Antum tau bepe ga? Kalo antum liat bepe terbang nyundul bola, beuuuuh..” begitu bulat nadanya yang membuat saya selalu tersenyum simpul. Begitu berbinar binar sahabat kecil saya bercerita tentang putra Getas yang di idolakanya itu, entah mengapa, namun saya tak bergeming. Bagiku sepakbola saat itu cuma Michael Owen, Steven Gerrard, Mercelo Salas dan Alesandro Nesta. Saya adalah fans Liverpool dan Lazio memang. Namun setiap berbicara sepak bola Randi selalu mendahului saya untuk bersuara Bepe adalah segalanya. Sampai akhirnya sahabat saya harus pindah ke Batam dan menetap disana, nafas bernama Bepe jarang lagi saya dengar.

-Waktu berlari kencang, sembari mencari dibalik awan mendung. Sahabat masih ingatkah, kini saya satu getaran dengan nafasmu-

Pada suatu hari telepon berdering, seperti biasa sebagai volunteer tugas menghampiri saya kapanpun dia ada. Tapi ini adalah hal yang berbeda. Mas Yudie sebagai founder Yayasan yang saya jalani sekarang berkata, “Ang..bisa anter buku, banyak, ada sekitar 50 buku untuk di tanda tangani”. Kesal kenapa tidak ada siapa siapa saat itu di kantor, jadi saya yang harus jalan. “Buku bepe nya dipisahin ya, di taro di box besar aja, hari ini mas bepe dirumah, saya sudah hubungi”. Saya pun terpaku, siapa gerangan? Bepe bepe bepe. Dengan cepat saya wassap istri saya, saya mau kerumah bepe, dan saya bahagia luar biasa saat itu.

Harus saya akui saya adalah orang bertipikal “astaga” jika harus berkesempatan bertemu orang orang yang memang saya kagumi, bertemu orang yang 17 tahun lalu begitu gagah diceritakan sahabat kecil saya. Dan tidak lama setelah itu saya juga diberikan kesempatan duduk di row paling depan menyaksikan Mas Bepe membedah buku nya. Makan di meja yang sama, dan pulang di “supiri” orang yang kalau terbang, Randi akan berkata beuuuuuuh. Mungkin banyak yang lebih intim diluar sana selain saya ketika bertemu dengan Mas Bepe. Tapi ini akan menjadi ke “endeso” saya, yang saya sangat saya banggakan dan saya selalu akan menceritakan kesiapapun.

-Aku, mudah sekali jatuh hati bahkan hanya dengan kata kata yang terucap. Dan sejak saat itu hati ini jatuh terlalu dalam-

Dan lorong waktu berhenti di tanggal 9 Desember 2018. Saya berpegangan dengan wajah lemas istriku yang mulai mual karena janin dalam perutnya mungkin merasakan apa yang ayahnya rasakan, getir. Sampai akhirnya langkah membawa saya berhadapan dengan beton dan besi yang bersusun yang akan menjadi wadah ribuan bola mata bercucur air mata karena dahaga akan sirna.

Pada akhirnya si pria berbaju kuning sudah di tengah lingkaran tengah lapang, nafas semakin sesak dan dahi sudah mulai terkerut. Gemuruh riak sorak sorai menyiutkan hati bermohon ini jangan berhenti. Dan.. laga itu di mulai, saya siap..saya sangat tidak siap..selalu terucap dibibir pucat ini.

Skor 2-0 untuk Persija Jakarta, Piala itu seperti sudah menggantung 3 cm dipelupuk mata yang membuat darah ini begitu cepat mengaliri kepala, lalu ke kesekujur tubuh, mendidih 3000 fahrenheit dan pada akhirnya menciptakan erupsi yang ciptakan sendi kaki melemas, keringat di kepalan tangan tak henti mengisi pori pori jari. Tapi hati berkata tetaplah seperti ini, jangan berhenti sekarang.

Dan akhirnya waktunya telah tiba, ketika ribuan lautan manusia memanggil namanya, “Bambang Bambang Bambang Pamungkas.. Bambang Pamungkas Sekarang juga” seketika saya berdiri sesigap mungkin yang membuat istri saya, terkejut dan marah. This is it, sesuatu yang menjadi rahasia hatinya saya yang sesungguhnya. Rahasia bahwa saya tak ingin laga ini berhenti. Karena saya tidak mau ini menjadi laga Pamungkas seorang Bambang Pamungkas.

Pada akhirnya dia masuk, berdiri di pinggir di temani wasit, papan 9 out dan 20 in, terlihat gestur sedang berdoa, dan berlari memasuki lapangan. Sontak mata ini hanya melihat dia berlari dan berlari. Inikah Pamungkas mu Mas Bambang? Saya berteriak, bernyanyi seperti bertemu lagi dengan energi positif yang sempat hilang beberapa saat.

Peluit berdesir, Tim Persija Jakarta menaklukan prasangka buruk dengan darah juang yang tak terhingga adanya. Seketika air mata memberikan pesan ke kepala untuk membawa saya tersungkur mengucap raya syukur, akhirnya Persija angkat piala liganya kembali. Tangisan dan teriakan bergelora di Gelora Bung Karno, Tim bersorak, suporter berteriak, melebur menjadi harmoni ketika suara Freddy Mercury berdendang “We Are The Champion” saat itu air mata semakin tidak terbendung. Iya saya ada di Gelora Bung Karno saat itu.

Laga Pamungkas menurut definisi saya sudah berakhir, laga dimana saya merasakan ketakutan ditinggal sebuah pementasan tari si kulit bundar yang di mainkan oleh Bambang Pamungkas. Namun saya juga berbahagia karena Persija Jakarta menjadi tim idola yang meraih juara di liga. Karena Liverpool dan Lazio belum juga juara lagi sampai ini.

Saya hanya takut tidak lagi melihat pemain bernomor 20 itu menghampiri pemain lain yang emosi di tengah medan perang, Saya hanya takut tidak ada lagi sundulan terbang milik putra Getas itu merobek hati pendukung tim lain. Saya hanya takut tak ada lagi orang yang perkataanya membuat kita membuka lebar lebar pandangan hidup tentang apa arti itu semangat dan kerja keras. Saya hanya takut tidak adalagi dia yang menghampiri kami the Jakmania yang mulai merasa dicurangi dan marah. Tapi semua akan ada titik yang menyempurnakan sebuat pena ketika sejarah ditulis. Dia lah Bambang Pamungkas. And after all you are my wonderwall.

Penulis : Lisong Merseyside
Foto : (Qharry-JO)



You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Log In

Top Skorer PERSIJA

1. Marko Simic (14 Gol)

2. Jaimerson da Silva Xavier (6 Gol)

3. Novri Setiawan (4 Gol)

4. Rohit Chand (3 Gol)

5. Riko Simanjuntak (3 Gol)

Instagram @JakOnline01

Facebook

Terbaru